Dampak Libur Panjang, Mungkinkah Berujung Kembali Diperketatnya PSBB di DKI Jakarta

Jakarta – Epidemiolog dari Griffith University Australia Dicky Budiman mengingatkan, libur panjang di Indonesia sudah terbukti menyebabkan lonjakan kasus. Ini terlihat pada libur panjang Agustus lalu. Libur panjang pada 28 Oktober-1 November 2020 dinilai bisa berdampak pada naiknya kasus positif Covid-19, termasuk di wilayah Ibu Kota.

Jika tidak diantisipasi, bukan tidak mungkin terjadi lonjakan kasus signifikan yang berujung pada kembali diperketatnya pelaksanaan pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Sebelumnya, dua libur panjang, yakni saat Hari Kemerdekaan ke-75 RI pada 15-17 Agustus serta perayaan Tahun Baru Islam mulai 20-23 Agustus. Dalam waktu dua pekan sampai sebulan setelah libur panjang, kasus Covid-19 melonjak. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akhirnya kembali memberlakukan PSBB untuk mengerem laju penularan.

“Umumnya dampak libur panjang ini setelah satu bulan terlihat lonjakannya. PSBB ketat di Jakarta kemarin itu kan dilakukan sebulan setelah libur panjang,” kata Dicky kepada Kompas.com, Selasa (3/11/2020).

Dicky mengingatkan, bukan tidak mungkin kasus Covid-19 di Jakarta akan kembali melonjak sebagai dampak libur panjang Maulid Nabi pekan lalu. Oleh karena itu, Pemprov harus mengantisipasi dari sekarang jika tak ingin PSBB ketat kembali diberlakukan.

Dicky menilai pemprov DKI perlu mengantisipasi lonjakan kasus dengan terus menggencarkan tes dan pelacakan kasus yang disebut testing, tracing, dan treatment (3T).

“Pemerintah daerah harus lebih meningkatkan responsnya dalam aspek 3T. Tak ada lagi cara selain kita perkuat 3T,” kata Dicky. Dicky menilai tes Covid-19 di DKI Jakarta sudah relatif baik ketimbang daerah lainnya.

Untuk menurunkan positivity rate ini, Dicky menyarankan pemprov DKI meningkatkan lagi kapasitas testing. Meski sudah lima kali lipat standar WHO, Dicky menilai testing yang dilakukan di Ibu Kota belum sesuai dengan eskalasi pandemi. Strategi lanjutan dari testing itu, yakni tracing atau pelacakan, juga belum maksimal.

 “Tracing juga belum sesuai, target WHO kan 40 persen minimal,” ujarnya.

Untuk mengantisipasi lonjakan kasus pascalibur panjang ini, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengambil langkah meminta Gugus Tugas Penanganan Covid-19 tingkat RW mendata warga yang baru kembali usai bepergian keluar kota. Pelaporan tersebut, kata Anies, untuk memberikan pengawasan lebih kepada mereka yang baru tiba usai bepergian.

“Kami sudah meminta gugus tugas RW untuk mengabarkan warga bila habis bepergian atau liburan,” ujar Anies dalam keterangan suara, Senin (2/11/2020).

Anies mengatakan, apabila ada warga yang mengalami gejala mirip Covid-19, maka segera dilakukan pemeriksaan di Puskesmas. “Sehingga bila perlu dilakukan tes, bila ada gejala, bisa langsung dideteksi lebih awal,” kata dia.

Adapun per hari ini dari pantauan corona.jakarta.go.id, masih terdapat penambahan 1.024 kasus positif Covid-19 di Jakarta. Dengan penambahan kasus baru tersebut, Covid-19 di Jakarta kini mencapai 108.620 kasus dengan 2.315 pasien meninggal dunia, 97.833 sembuh, dan 1.807 orang masih dirawat dan 6.665 isolasi mandiri.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *