Ekspor Potensial di Masa Pandemi

Hampir semua negara termasuk Indonesia masih berjuang melawan pandemi. Kondisi ini memicu ekonomi pada kondisi stagnan. Efek lockdown sangat terasa di berbagai sendi ekonomi. Hampir semua negara mengalami resesi, pertumbuahan negatif. Mobilisasi manusia dan barang dibatasi. Bandar udara, sepi. Berbagai negara, untuk menangani pandemi  melakukan kebijakan pembatasan penerbangan. Bongkar muat di pelabuhanpun turun drastis. Untuk mengembalikan ke kondisi normal, butuh upaya yang sangat berat. Semua negara melakukan upaya penyelamatan perekonomiannya antara lain dengan mengurangi hambatan ekspor ke berbagai negara guna menyeimbangkan neraca perdagangannya.   

Terkait aktivitas ekspor impor, beberapa negara masih memberlakukan kebijakan tarif, pengetatan ketentuan atau pelarangan impor, dan lain-lain. Seperti Amerika masih terus memberlakukan pengenaan tarif yang tinggi terhadap produk biodesel dan baja. Australia terhadap kertas, Negeria dan Arab Saudi juga mengenakan beberapa ketentauan tarif yang bervariasi untuk bea masuk. Ditambah lagi seperti Nigeria melakukan pelarangan impor untuk hasil pertanian, peternakan dan minyak goreng. Demikian juga produk pupuk NPK. Hal yang sama dilakukan beberapa negara seperti pelarangan tembakau oleh Canada. Demikian juga Canada melakukan pengetatan ketentuan impor untuk produk makanan dan minuman.  Hal sama dilakukan pemerintah India untuk produk ban, juga ketentuan impor untuk produk CPO dan batubara. Berbagai ketentuan ini tentu saja akan menjadi daftar panjang hambatan ekspor bagi Indonesia.

Disisi lain beberapa sektor sangat terpukul dengan kondisi pandemi seperti sektor pariwisata, perhotelan dan transportasi dan lain-lain. Namun, ada beberapa produk ekspor utama dan produk potensial yang masih dapat diandalkan. Dapat diandalkan karena saat ini masih mempunyai tren positif ekspor di beberapa negara mitra. Salah satu diantaranya,  pangsa pasar di negara mitra yang mempunyai kurang dari 25 persen dan nilai impornya lebih besar dari USD 100 ribu. Namun, nilai ekspor produk Indonesia lebih dari USD 100 juta. Salah satu negara sasaran produk ini adalah negara potensial baru seperti Mesir, Pakistan, Arab saudi, Iran dan lain-lain. Salah satu contoh produk winning excellent maupun winning emerging yang dikembangkan ke negara Mesir. Produk utama (winning excellent) yang dipasarkan di Mesir seperti produk biji kopi, buah olahan, CPO dan produk-produk turunannya, produk karet olahan, kayu olahan seperti furniture, minyak goreng, tekstil dan produk tekstil (TPT) serta produk kimia. Sedangkan produk ekspor potensial (winning emerging) berupa produk elektronika, otomotif, produk permesinan, logam dasar seperti besi atau baja. Produk lainnya adalah produk kertas, produk mainan anak-anak, makanan olahan serta kakao olahan

BACA JUGA :   Neraca Perdagangan Kaltara Tetap Surplus

Pada saat kondisi pandemi seperti saat ini tentu diperlukan kebijakan-kebijakan strategis yang diharapkan dapat mendorong peningkatan ekspor baik jangka pendek, menengah maupun jangka panjang. Pada dasarnya ada dua strategi yang dapat diimplementasikan saat ini, pertama, strategi untuk menghadapi ekspor jangka menengah dan panjang, yaitu berfokus untuk mempertahankan produk yang sudah mempunyai market power. Maksudnya adalah sebuah indeks untuk menunjukkan kekuatan serta penguasaan pasar produk ekspor Indonesia di negara tujuan. Hal ini dapat dilihat dari pangsa pasar produk ekspor Indonesia, nilai ekspor, nilai impor negara mitra dan trend pertumbuhan ekspornya. Oleh karena itu semakin tinggi indeks market power ini, diharapkan semakin kuat penguasaan pasar produk ekspor Indonesia di negara tujuan seperti Mesir dan beberapa negara lainnya.

Disamping itu perlu diperhatikan juga produk-produk yang mempunyai daya saing lemah (losing product), yaitu produk-produk yang selama 5 tahun terakhir mengalami trend penurunan. Tentu saja produk-produk ini perlu perhatian secara serius. Pemerintah perlu mendorong kembali daya saingnya, salah satu diantaranya adalah dengan   melakukan efisiensi usaha dan pengalihan ke pasar potensial seperti beberapa negara Arab.

Kedua, strategi jangka pendek seperti kondisi pandemi saat ini. Yaitu berfokus pada pengembangan ekspor produk-produk yang menunjukkan pertumbuhan ekspor yang positif. Produk-produk yang menunjukkan positif saat ini  adalah produk makanan dan minuman olahan, produk alat-alat kesehatan, produk pertanian, produk perikanan serta produk-produk agro industri. Selain produk-produk yang menunjukkan trend positif, sebagai akibat adanya pemulihan pasca pandemi terutama pada negara-negara yang sudah pulih dari pandemi, seperti produk otomotif, TPT, produk-produk alas kaki, elektronika, produk besi dan baja, serta lainnya.

Disisi lain ada hikmah dibalik pandemi ini yaitu adanya produk-produk unggulan baru yang muncul. Produk-produk tersebut antara lain, produk farmasi (contohnya hand Sanitizer) dan produk-produk ekspor baru yang merupakan hasil relokasi industri beberapa negara ke Indonesia. Sebagai contoh perpindahan industri manufaktur ke Indonesia sebagai akibat pandemi atau perang dagang Amerika dan China.

Strategi peningkatan daya saing tersebut akan berkaitan langsung dengan pengembangan dan peningkatan nilai tambah (hilirisasi) industri nasional. Oleh karena itu hal ini merupakan tugas Pemerintah, mengembangkan industri nasional, yang terbagi menjadi dua katagori yaitu dari sisi penawaran (supply) dan sisi permintaan (demand).

Sisi supply yang dimaksud adalah perlu dilakukannya pengembangan bahan baku nasional, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, penyediaan insentif  untuk investasi nasional serta pemberian fasilitas dan kemudahan  permodalan melalui kemudahan bunga kredit dan jaminan. Secara perlahan dan pasti, terus dilakukannya peningkatan infrastruktur seperti sarana jalan, pelabuhan dan lain-lain guna mendukung kegiatan industri dalam negeri. Diharapkan peningkatan infrastruktur tersebut akan menurunkan biaya tinggi (high cost)  sehingga biaya produksi dan harga jual menjadi lebih kompetitif.

BACA JUGA :   Ekspor Melejit, Komisi IV DPR RI Dukung Kementan Kembangkan Porang

Selain itu melakukan penyederhanaan atau pengurangan lartas (pelarangan terbatas) ekspor dan percepatan ekspor melalui National Logistics Ecosystem yang saat ini dikembangkan. Termasuk mempermudah dan mempercepat pelayanan penerbitan Surat Keterangan Asal (SKA) barang ekspor atau ROO (Rule of Origin) melalui penerapan affixed signature dan stamp. Selanjutnya, terus dilakukan program pendampingan ekspor (Export Coaching Program) dan pembiayaan ekspor terutama bagi UMKM guna meningkatkan daya saing.

Sedangkan dari sisi demand,  berupa pengembangan  dan  diversifikasi berbagai produk, pengembangan dan perluasan pasar domestik serta pengembangan dan perluasan pasar  melalui pameran, promosi maupun expo di berbagai kawasan dan negara. Kondisi saat ini dapat melalui berbagai tempat atau event, termasuk secara virtual. Selain itu terus mendorong pelaksanaan Business Matching melalui fasilitas perwakilan perdagangan yang ada di berbagai wilayah baik Asia seperti Jepang, Korea Selatan dan China, negara-negara Arab, Uni Eropa dan Amerika. 

Selain itu, Pemerintah dapat melakukan berbagai aksi nyata, seperti peningkatan mutu beberapa produk agar segera memperoleh sertifikat ISO 9001. Dengan standar ISO ini diharapkan mutu  produk-produk tadi akan  meningkat guna memenuhi permintaan dunia terutama negara-negara utama dan potensial. Demikian juga dilakukan optimalisasi pemanfaatan pusat pengembangan untuk meningkatkan berbagai produk inovasi atau turunannya.

Yang tidak kalah penting beberapa strategi peningkatan daya saing adalah mengoptimalisasi (utilisasi) berbagai kerjasama atau perjanjian bilateral maupun regional yang sudah disepakati. Seperti perjanjian ekonomi Indonesia Jepang, Pakistan, Chile, Australia, negara European Free Trade Agreement (EFTA), Korea Selatan, Mozambique dan lain-lain. Terus melakukan percepatan penyelesaian perjanjian  kerjasama perdagangan Indonesia dengan Uni Eropa, Turki, Pakistan, Tunisia, Bangladesh, Iran, Mauritius dan Maroko. Kemudian juga terus dijajagi kerjasama bilateral dengan beberapa negara potensial seperti dengan Afrika Selatan, Djibouti,  Afrika Timur, Algeria, Sri Lanka, Colombia, Peru, Ecuador, Fiji, Papua Nuginea dan lain lain. Hal ini diharapkan akan dapat membuka akses potensial pasar baru.

Penulis : Ragimun
Peneliti pada Pusat Kebijakan Regional dan Bilateral
Badan Kebijakan Fiskal, Kemenkeu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *