Ekonom Adidaya Institute Bramastyo B Prastowo Menjelaskan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia dan Big Push Economy (IST)
Keuanganonline.id, JAKARTA – Adidaya Institute menilai capaian pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 sebesar 5,61 persen merupakan pertanda bahwa ekonomi Indonesia tetap tangguh di tengah tekanan ekonomi global yang kian meningkat. Ekonom Adidaya Institute, Bramastyo B Prastowo mengatakan kinerja ekonomi tersebut akhirnya membantah tuduhan-tuduhan pesimis tentang buruknya pembangunan ekonomi era pemerintahan Prabowo-Gibran.
“Pertumbuhan ekonomi sebesar 5,61 persen merupakan sinyal positif bahwa ekonomi nasional tetap resilien di tengah tekanan global. Pertumbuhan 5,6 persen adalah tanda ekonomi bergerak,” ucap Bram dalam keterangan kepada awak media pada Jum’at (8/6) siang.
Menurut Bram, catatan Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan besarnya kontribusi Pengeluaran Konsumsi Pemerintah dalam mendorong angka pertumbuhan ekonomi 5,6 persen itu memberi penegasan bahwa belanja pemerintah menjadi motor penting dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia. Namun demikian, Bram mengingatkan belanja pemerintah seharusnya dapat diarahkan sebagai kekuatan produktif yang mampu menghasilkan peningkatan investasi, rantai pasok domestik dan penciptaan nilai tambah.
“Dorongan belanja pemerintah harus diarahkan agar tidak berhenti sebagai consumption push. Belanja negara perlu dikonversi menjadi productive big push, yakni dorongan yang memperkuat investasi, rantai pasok domestik, hilirisasi, produktivitas tenaga kerja, dan penciptaan nilai tambah,” jelas dia.
Meski demikian, bagi Bram, agenda pemerintahan Prabowo-Gibran tentu tidak hanya menjaga pertumbuhan ekonomi. Pemerintahan baru ini berkewajibannya menaikkan level pertumbuhan ekonomi ke level transformasi. Dirinya menyatakan pengeluaran pemerintah atau government spending harus jadi medium untuk meningkatkan kualitas pertumbuhan ekonomi.
“Namun agenda Indonesia bukan hanya menjaga pertumbuhan, melainkan menaikkannya ke level transformasi. Government spending harus jadi jembatan dari konsumsi menuju produktivitas, dari belanja menuju investasi, dan dari program prioritas menuju Big Push ekonomi nasional,” ucapnya.
Bram menegaskan pemerintah sesungguhnya tengah menjaga momentum ekonomi secara tepat melalui sejumlah instrumen fiskal. Misalnya dengan memperbanyak upaya peningkatan penerimaan negara lewat perluasan pemajakan di sektor tambang seperti Nikel dan Batubara. Bagi Bram, upaya pajak ekspansif itu jauh lebih baik daripada menambah pasokan utang dari negara lain dan kreditur internasional.
