Kiai Umar, Sang Penggerak dari Kalisuren

Idham Cholid ketika sowan Maulana Al-Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya di Pekalongan

Oleh: Idham Cholid

Haul al-Maghfurlah simbah Kiai Umar Mutawali yang dilaksanakan pada 4 Juli 2020, dimana biasanya diselenggarakan dengan pengajian massal di masjid setelah ziarah, kali ini di tengah suasana new normal cukup dengan mengkhatamkan al-Quran di maqbarah. Tanpa mengurangi kekhusyuan dan kekhidmatan haul.

Bagi masyarakat Kalisuren, Kertek, Wonosobo, Kiai Umar yang diperingati haulnya setiap tanggal 13 Dzulhijjah adalah sosok yang luar biasa. Dia memang hanya kiai kampung, tapi kiprahnya sangat nyata, masih dirasakan pengaruhnya sampai saat ini. Dia-lah yang menggerakan kesadaran keberagamaan masyarakat Kalisuren dan sekitarnya saat itu.

Mutawadli

Diantara keistimewaan Kiai Umar sebagaimana diceritakan KH. Nursyamsuddin, salah seorang cucunya, adalah tidak pernah batal wudlu. Keistiqamahannya menjaga wudlu sehingga dia selalu dalam keadaan suci dari hadats, juga najis dan kotoran. Mungkin kalau hidup di masa new normal saat ini, dia-lah orang yang paling sesuai dan memenuhi dengan standar protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah.

Karena selalu berwudlu itulah dia disebut dengan mutawadli yang dengan mudah dilafalkan dengan mutawali. Nama ini kemudian populer sampai saat ini, Kiai Umar Mutawali.

Jika dirunut, Kiai Umar Mutawali bersilsilah sampai HB-II. Dia putera Kiai Soleh (Sigedang, Kejajar) bin Kiai Sirajudin (Windusari, Magelang) bin Kiai Muhammad Nur atau dikenal dengan Kiai Landamdari, bin Kiai Nur Iman, Mlangi Jogja. Dari sinilah silsilahnya sampai ke HB-II.

Salah satu istri Kiai Umar Mutawali adalah Nyai Kustantiyah, putri KH. Raden Abdul Fatah, Sigedong, ulama perintis pondok pesantren di Wonosobo, yang pada tahun lalu haulnya yang ke-112 digelar di alun-alun Wonosobo dan dihadiri KH. Ma’ruf Amin.

Tiga putra Kiai Umar yang cukup menonjol: KH. Chumaidi, Kiai Fahrudin dan Kiai Dalhar.

Cucu Kiai Chumaidi yang kiprahnya sangat menonjol saat ini yaitu Saat Suharto bin KH. Ahmad Amjad, saya memanggilnya Mas Saat, pendiri BMT Tamyiz dan perintis RS PKU Muhammadiyah Wonosobo.

Adapun cucu Kiai Fahrudin yang saat ini masih berkiprah di panggung politik adalah Gus Ahmad Muhammad bin KH. Subromalisi, Ketua Baleg DPRD Kabupaten Wonosobo, juga Ketua DPC Partai Hanura.

Sedang Kiai Dalhar menurunkan putra ulama kharismatik, alm. Kiai Nashir Dalhar, Tieng Kejajar, yang akrab dipanggil Mbah Nashir.

Kiai Syahdu

Selain mutawadli karena istiqamahnya mendawamkan wudlu, dikalangan masyarakat Kalisuren dan sekitarnya saat itu Kiai Umar juga populer dipanggil Kiai Syahdu. Apa maksudnya?

Jelas, ini bukan syahdu sebagaimana lagu Rhoma Irama yang selalu menambatkan kerinduannya pada Ani. Juga bukan pula sebagaimana persembahan lagu-lagu syahdu Ariel NOAH untuk BCL.

Masyarakat menyebutnya Kiai Syahdu karena terlalu seringnya mendengar Kiai Umar melafalkan kalimat tauhid: asyhadu anla ilaha illa-Allah, wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah. Masyarakat Kalisuren dan sekitarnya saat itu yang masih sangat asing dengan kalimat tauhid hanya bisa menyebutnya syahdu. Itulah lidah Jawa. Abdullah pun jadi dolah. Syafa’at jadi sapangat, barokah jadi berkat.

Menurut KH. Subromalisi bin alm. Kiai Fahrudin, yang masih cucu Kiai Umar, kalimat tauhid itulah yang menjadi salah satu amalan dan dzikir utama Kiai Umar. “Setiap saat dan di semua tempat, beliau selalu berdzikir itu, kecuali di tempat yang diharamkan,” jelas Kiai sepuh Wonosobo itu.

Konon, karena dzikir andalan itulah setan pun sangat membenci dan memusuhinya, sehingga pernah terjadi perkelahian sengit. Kiai Umar pantang menyerah. Dia melakukan perlawanan langsung hingga punggungnya terluka. Mungkin ini cerita fiktif atau mistik belaka. Tapi menurut KH. Nursyamsudin, kakak KH. Subromalisi, ada bekas luka senapan di punggung Kiai Umar. Diyakini, itulah bekas luka senapan setan. Wallahu a’lam.

Kegandrungan Kiai Umar pada dzikir kalimat tauhid adalah wujud kecintaannya kepada Yang Maha Kuasa, Maha Segalanya, Allah ‘Azza wa Jalla. Bukankah sang pecinta akan selalu menyebut-nyebut kekasihnya? Demikian Imam Syafii mendalilkan.

Penulis adalah Ketua Umum JAYANUSA dan
Cicit Kiai Umar Mutawali

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *