Minggu, 25 Juli 2021

KeuanganOnline.id

Portal Informasi Keuangan dan Pemerintaha

Inovasi Pertanian Akar Wangi Yang Berkelanjutan

Akar Wangi

Dimulai dari proses ekspor tanaman pada tahun 1918, akar wangi dikenal sebagai salah satu komoditas andalan. Pasar dunia mengenal minyak akar wangi asal Indonesia dengan nama Java Vetiver Oil. Daerah yang paling ideal melakukan budidaya varietas akar wangi adalah Kabupaten Garut, terutama di daerah bagian hulu DAS Cimanuk.

Bahkan pada dekade 1990 Kabupaten Garut menjadi eksportir terbesar minyak akar wangi dunia. Dengan menghasilkan produksi minyak sebanyak 75 ton, dari kebutuhan dunia sebanyak 100 ton dan permintaan terhadap minyak akar wangi semakin besar. Namun berdasarkan resume data Kementerian Perdagangan RI (tahun 2019), produksi akar wangi mengalami kemerosotan. Permintaan dunia sebesar 250 ton per tahunnya hanya dapat dipenuhi 40-60 ton.

Akar wangi (Vetiveria zizanioides Stapf) merupakan tanaman dari famili poaceae (suku rumput-rumputan). Secara kasat mata terlihat seperti rumput liar yang tumbuh sepanjang 1,5-2 meter. Untuk mendapat hasil produksi yang baik, akar wangi biasa dibudidayakan pada ketinggian 600-1.500 meter di atas permukaan laut (dpl). Faktor lain yang memengaruhi adalah curah hujan dan suhu. Tanaman akar wangi memerlukan curah hujan 140 hari dalam setahun, serta suhu ideal berkisar 17-27 derajat Celcius.

Dari proses penyulingan bagian akarnya, tanaman akar wangi banyak dibudiyakan untuk menghasilkan minyak. Minyak akar wangi dikenal mempunyai aroma yang lembut dan halus. Umumnya digunakan dalam pembuatan  parfum, pewangi, sabun, obat-obatan dan pembasmi serta pencegah serangga.

Dari hasil penelitian Sabarman Damanik ditemukan fakta bahwa faktor penurunan produksi akar wangi terjadi akibat banyak petani kurang memperhatikan aspek lingkungan. Lahan bagian hulu DAS Cimanuk yang digunakan sebagai lahan pertanian akar wangi memiliki topografi bergelombang dan berbukit, dan rata-rata memiliki kemiringan lereng mulai dari 15% sampai lebih dari 45% (hlm. 1). Ketika akar wangi di panen tentunya tanah kehilangan sanggahan sehingga terjadi pengurangan lapisan tanah. Pada akhirnya menjadi ancaman erosi dan mengurangi kesuburannya. 

BACA JUGA :   Pasar Mitra Tani Kementan Kembali Gelar Cabai Rawit Murah Rp 32.000 per kg

Konsideran tersebut diatas yang menjadi dasar penelitian Sabarman Darmanik. Dalam disertasinya yang bertajuk Pengembangan Usaha Pertanian Konservasi Tanaman Akar Wangi yang diterbitkan oleh IPB University dan NCBI (Nation and Character Building Institute). Sabarman Damanik mencoba mengupas pola produksi pertanian akar wangi secara tradisional, serta menawarkan terobosan berbentuk pola pertanian konservasi sebagai gantinya.

Menjaga Lingkungan dan Meningkatkan Produktivitas Petani

Kecamatan Samarang merupakan daerah di Kabupaten Garut menjadi lahan terbesar pertanian akar wangi. Terlihat pada 2002 kawasan ini menyumbang 650 ha tanah guna ditanami akar wangi. Begitupun dengan sebagian masyarakatnya, secara notabene memilih terjun menggeluti usaha tani.

Jenis akar wangi yang banyak ditanam adalah berbunga dan tidak berbunga. Umumnya digunakan jenis kedua, karena lebih banyak menghasilkan minyak. Penanaman akar wangi sering dilakukan petani secara monokultur dan tumpang sari dengan tanaman lain. Seperti kentang, kubis, cabai, wortel, kacang merah, dan tembakau.

Menurut Sabarman Damanik, pola pertanian tradisional di atas memberikan dampak serius bagi lingkungan sekitar. Ketika musim panen tiba, akar wangi dan tanaman tumpang sari yang semula menjadi penahan lereng dicabut. Sehingga terjadi kekosongan vegetasi dan tanah tergerus hingga akhirnya mengurangi kesuburannya. Pola demikian terus dilestarikan dan dilakukan secara turun-temurun.

BACA JUGA :   Menjadi Buah Unggulan Lokal, Mentan Syahrul Kunjungi Kebun Durian Warso Farm

Sabarman Damanik dalam bukunya membandingkan 3 (tiga) jenis pola usaha tani, yaitu tradisional, konservasi, dan introduksi. Dengan menitikberatkan pada aspek kelayakannya dengan kriteria rendahnya tingkat erosi, produktivitas tinggi, tingkat serangan hama dan penyakit rendah, proses panen bertahap untuk menahan vegetasi penutup tanah, rendemen dan kualitas akar wangi yang baik untuk ekspor dan impor. (hlm. 68).

Merujuk pada kriteria pertama yaitu rendahnya tingkat erosi, pola konservasi mencatat tingkat bahaya erosi (TBE) rendah, dengan mencatat angka 17 ton/ha/tahun dengan rata-rata 2.96 ton/ha/bulan. Berbanding terbalik dengan pola tradisional dengan TBE paling tinggi sebesar 26.2 ton/ha/tahun, sehingga rata-rata per bulannya adalah 4.36 ton/ha. Sedangkan pola introduksi berada di tengah keduanya dengan TBE sedang mencatat angka erosi 19.40 ton/ha/tahun, dan rata-rata bulananya 3.23/ha. 

Kriteria kedua produktivitas hasil pertanian, pola introduksi justru mencatat angka paling rendah. Pola tersebut menghasilkan akar wangi sebanyak 12.900 kg/ha/tahun. Menurut, Sabarman Damanik dalam bukunya hal ini disebabkan bibit yang digunakan berbeda dari 2 (dua) pola lainnya. Varietas Manoko/Lembang yang ditanam belum mampu beradaptasi dengan baik. Namun jika dilakukan penelitian lebih lanjut varietas tersebut dapat lebih tinggi tingkat produktivitasnya.

BACA JUGA :   Menko Maritim LBP & Mentan SYL Garap Food Estate di Humbang Hasundutan Sebagai Percontohan

Tingkat produktivitas tinggi masih dipegang oleh pola konservasi sebesar 18.4 ton/ha/tahun. Serta pola tradisional dengan 14.7 ton/ha/tahun. Keduanya mampu menghasilkan produktivitas tinggi, karena bibit yang digunakan sudah beradaptasi dengan baik terhadap lingkungan sekitar. Data produktivitas hasil pertanian ini belum termasuk tanaman lorong serta tumpang sari. Seperti pisang, kentang, dan tembakau yang biasa ditanam bersamaan dengan akar wangi.

Secara alami tanaman akar wangi memiliki senyawa yang tak disukai hama dan penyakit tanaman. Sedangkan 2 (dua) kriteria terakhir terkait panen bertahap dan kualitas hasil dapat merujuk ke kriteria tingkat besar erosi dan produktivitas.

Sabarman Damanik dalam bukunya menyimpulkan, pola konservasi merupakan sistem bertani akar wangi yang paling menguntungkan. Penerapannya cukup mudah dengan menanam tanaman Lorong, yang dikemudian hari dapat menambah penghasilan petani. Namun terdapat sebuah catatatan dalam penerapan awalnya pola ini memakan modal cukup besar. Tetapi menurutnya hal tersebut dapat ditutupi, ketika akhirnya musim panen tiba karena produktivitas hasil akar wangi meningkat.

Di akhir Sabarman Damanik mendorong petani membuat koperasi guna memotong mata rantai produksi yang panjang. Petani seharusnya membangun tempat penyulingannya sendiri, sehingga tidak ada permainan harga dari broker besar. Secara garis besar buku ini menyajikan suatu jalan keluar terhadap lesunya produktivitas petani akar wangi saat ini. Sehingga diharapkan kedepannya dapat diterapkan oleh petani untuk mampu mendongkrak kesejahteraan dan  hasil panen.

Virdika Rizky Utama, Peneliti di PARA Syndicate

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *