19/04/2021

KeuanganOnline.id

Portal Informasi Keuangan dan Pemerintaha

Multiplier Effect Kerjasama Sustainable Infrastructure di Kawasan ASEAN

Pelabuhan Malundung di Tarakan yang menjadi salah satu pintu gerbang utama perekonomian Kaltara

Pembiayaan infrastruktur di Negara-negara anggota ASEAN sebagian besar (kecuali Singapura) mengalami gap antara kebutuhan dan kemampuan. Kondisi ini menjadikan  peluang  kerjasama pembiyaan berkelanjutan infrastruktur di kawasan ASEAN sangat besar. Apalagi Negara-negara Anggota ASEAN  semuanya telah meratifikasi “Perjanjian Paris” berdasarkan Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim.

Sampai saat ini model kerja sama regional pembiayaan infrastruktur secara global belum berkembang. Namun demikian sudah banyak wacana dan komitmen tentang pembentukan kerjasama pembiyaan di berbagai kawasan. Secara teoritis model kerjasama dapat dibedakan menjadi kerjasama  yang bersifat tertutup (closed) dan terbuka (open).

Untuk kawasan ASEAN, kerjasama yang bersifat closed sangat tidak realistis, mengingat adanya keragaman antar negara ASEAN, seperti kondisi  pasar modal dan  peraturan-peraturan yang terkait dengan pasar modal, kondisi ekonomi, dan tingkat risiko yang dihadapi.

Sedangkan kerjasama regional pembiayaan infrastruktur yang bersifat open lebih mudah dilaksanakan. Adapun tujuannya utama adalah penguatan competitiveness kawasan dalam menarik pembiayaan infrastruktur berkelanjutan secara global.

Konsep ini sejalan dengan konsep kerjasama terbuka yang dikembangkan oleh Lizano (1998), Kuwayama (1993) dan Bulmer-Thomas (1998) bahwa kerjasama ini sebagai rangkaian aksi bersama di tingkat regional untuk memperoleh dan meningkatkan daya saing internasional.

Multiplier Effect

Berdasarkan konsep kerjasama terbuka di atas,  negara-negara anggota ASEAN dapat menerbitkan obligasi dengan menggunakan label yang sama (misalkan ASEAN green bond).  Adapun keuntungan pendekatan kerjama ini antara lain adalah: Pertama,  terdapat potensi pembentukan regional asset class melalui asset labeling.

Standar ASEAN green bond adalah inisiatif yang memfasilitasi pasar modal ASEAN dalam memanfaatkan keuangan hijau untuk mendukung pertumbuhan kawasan yang berkelanjutan dan memenuhi minat investor untuk investasi hijau dan merupakan bagian dari upaya ACMF yang lebih luas dalam mengembangkan keuangan hijau.

Kedua, terdapat potensi penguatan kredibilitas. Konseptualisasi regionalisme terbuka sebagai rangkaian aksi bersama di tingkat regional dan meningkatkan daya saing internasional. Dengan adanya kerjasama regional dalam penerbitan green bond diharapkan diperoleh keuntungan langsung dalam bentuk pengurangan ketidakpastian dan meningkatkan kredibilitas sehingga memudahkan sektor swasta untuk merencanakan dan berinvestasi secara regional dan  secara global.

Ketiga, terdapat potensi penguatan bargaining position. Dewasa ini  pendanaan inovatif  mulai  berkembang pesat dengan membuat perbedaan dengan jenis pendanaan lainnya. Terkait dengan pendanaan inovatif, diperlukan adanya kesepakatan dalam standar yang disepakati bersama tentang sustainable finance untuk memberikan panduan dan jaminan ke pasar terhadap label ‘berkelanjutan’. ACMF telah menyediakan kategori proyek yang memenuhi syarat indikatif untuk penerbitan green bond.

Namun saat ini AMS belum mengeluarkan satupun yang bersifat nasional pembiayaan berkelanjutan. Negara-negara anggota ASEAN yang telah memiliki daftar kategori proyek yang memenuhi syarat untuk pembiayaan hijau adalah Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Vietnam. Negara-negara anggota ASEAN lain yang belum memiliki standar ini harus didorong untuk membuat aturan yang standar.

Green bond memberikan pembiayaan untuk energi bersih, angkutan massal, dan proyek rendah karbon lainnya yang dapat membantu negara-negara beradaptasi dan mengurangi perubahan iklim. Grrend bond juaga memberi investor kredit yang berkualitas tinggi, peluang investasi pendapatan tetap yang berdampak positif. Dalam kasus green bond yang diterbitkan oleh Bank Dunia dan IFC, investor mendapatkan keuntungan dari peringkat Aaa/AAA dari emiten.

Penerbitan green bond dengan peringkat yang tinggi dapat meningkatkan bargaining position suatu negara sehingga dapat mempermudah dalam mengumpulkan pendanaan iklim yang sangat dibutuhkan  untuk menghadapi tantangan perubahan iklim. Investor mulai dari dana pensiun hingga manajer aset global, perusahaan terkemuka dan bank sentral memfokuskan kembali strategi investasi mereka untuk memasukkan pertimbangan iklim.

Keempat, terdapat potensi pengurangan due diligence cost bagi investor. Satu hal yang paling krusial dalam penerbitan green bond adalah due diligence cost bagi investor. Dalam penerbitan obligasi kadang-kadang terjadi gagal bayar atas pokok dan bunga obligasi. Penerbit obligasi (emiten) bertanggung jawab terhadap investor jika terjadi gagal bayar. Penggunaan label Asean green bond dapat menurunkan due diligence cost apabila label tersebut mendapatkan peringkat yang tinggi dan stabil di pasar global.

Hasil penelitian Andriansyah (2002) menunjukkan bahwa dari 89 observasi terhadap perusahaan asing dan domestik menunjukkan bahwa investor bereaksi terhadap pengumuman peningkatan (upgrade) dan penurunan (downgrade) peringkat obligasi perusahaan asing maupun domestic. Hasil ini ditunjukkan oleh terdapatnya abnormal return positif yang signifikan di sekitar pengumuman peningkatan peringkat obligasi dan abnormal return negatif yang signifikan di sekitar pengumuman penurunan peringkat obligasi perusahaan asing dan domestik. Hal ini mengindikasikan bahwa pasar modal Indonesia memiliki reaksi yang signifikan terhadap pengumuman peningkatan (upgrade) dan penurunan (downgrade) peringkat obligasi.

Oleh : Makmun Syadullah

Peneliti Badan Kebijakan Fiskal, Kemenkeu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *