10 Juli 2026

2 thoughts on “Menjadi Khalifah yang Adil dan Bijaksana: Memutuskan dengan Hati, Menimbang dengan Amanah

  1. Penjelasan Bapak sangat menginspirasi setiap insan yang memiliki amanah dalam memimpin setiap organisasi yang melibatkan sumber daya, khususnya sumber daya yang bisa dibentuk ( manusia) untuk meningkatkan valuenya karena Tuhan sudah menurun dalilnya. Bagaimana cara mengenali cipta, rasa dan karsa supaya bisa mengakui dirinya yang sebagai pemimpin juga bisa merasakan sebagai makhluk ciptaan Tuhan, yang bukan hanya sekedar sembahyang untuk kepentingan dirinya, tetapi juga untuk kepentingan yang lebih besar untuk mampu mengembangkan SDM lingkungannya yang menyokong bagian dari tugasnya.
    Seorang pemimpin yang mengerti hakekat manusia kenapa dilahirkan kedunia dan sekarang berada disekelilingnya, namun tidak semua Pemimpin mau mengenali dan tidak semua Pemimpin memiliki ilmu tentang menyentuh jiwa dan karakter yang dipimpinnya, lebih banyak mengandalkan hubungan komunikasi umum, tanpa mau mengenalinya masing-masing personal untuk menggali potensinya. Dengan penjelasan yang bapak uraikan sudah masuk kedalam kedalam cipta , rasa dan karsa sebagai hakejat insan manusia sebagai SDM dlm organisasi.
    Umumnya di sebuah organisasi melibatkan SDM ada yg aktif mencatat HUT yang menyebutkan tanggal lahirnya hanya baru sebatas memberi ucapan selamat, tetapi belum sampai pada hakekat terdalam manusia yg dilahirkan kedunia beda hari, beda tanggal, beda bulan, tentu karakternya berbeda. Nah disinilah saya juga sarankan kepada setiap pemimpin kenali hati, karakter SDM guna memudahkan untuk mengembangkannya melalui arti dan ramalan bintang, tanpa harus mengenali pribadi pegawai yang jumlahnya banyak tanpa berlama-lama dan mau mengajarkan kepada staff dibawahnya yang sudah mengkoordinir beberapa orang. Cukup daftar nama SDM, tanggal lahir dan bintangnya apa. Dari ramalan bintang yang telah dibuat berabad-abad mencerminkan karakter umumnya dan tinggal melihat sikap/prilaku sehari -harinya, sehingga tahu kurang dan lebihnya yg akan bisa dikembangkan, yg selama ini terkadang subyektifitas dan terlihat semata dan tanpa memahami lainya yang tidak terlihat.
    Akhirnya melahirkan kubu-kubuan.

  2. Ulasan Bapak sangat bagus dan semua ada landasan berpikir, dan mengulasnya dengan mudah dipahami. Tuhan menurunkan manusia kedunia ada tujuan yg baik agar jadi manusia sesungguhnya. Tentu bisa mencintai dan bakti kepada Sang Pencipta, hormat sama sesana dan berusaha dengan lingkungannya.
    Kalau saja SK PHK itu ada alasan sebab musababnya berarti membuat keputusan PHK sifatnya arogansi, kita sebagai insan JR yang pernah bersama 31 tahun, tidak ada budaya sadistic. Pada dasarnya sikap manusia bisa dibentuk dan diperbaiki untuk menjadi lebih baik. Tetapi kalau seorang pemangku jabatan membuat keputusan tidak manusiawi sesuai tahapan aturan dan ada alasan yang jelas, saya khawatir mungkin manajerialnya belum memenuhi ESQu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *