Warga Greenwood Jatiasih Residence (IST).
Jakarta – Suasana JGR belum benar-benar tertidur ketika sebuah truk pengangkut sapi memasuki kawasan permukiman sekitar pukul 01.30 WIB pada malam takbiran. Di bawah cahaya lampu jalan yang redup, panitia DKM Baiturrahman JGR sudah bersiaga sejak malam menunggu kedatangan hewan kurban.
Suara takbir masih terdengar dari kejauhan. Beberapa warga membantu menurunkan sapi dengan hati-hati, sementara yang lain menyiapkan area penyimpanan sementara. Malam itu terasa panjang, tetapi wajah-wajah lelah justru dipenuhi antusiasme menyambut Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah.
Pagi harinya, Rabu (27/5/2026) bertepatan dengan 10 Dzulhijjah 1447 H, warga JGR lebih dahulu melaksanakan Sholat Idul Adha di lapangan RW yang diselenggarakan oleh Masjid Darul Ijtihad atau lainnya. Cuaca cerah dan udara pagi yang sejuk menambah kekhusyukan ibadah. Anak-anak tampak mengenakan pakaian terbaik mereka, sementara para orang tua saling bersalaman penuh kehangatan.
Selepas salat Id, warga mulai berkumpul di depan gerbang JGR sekitar pukul 07.00 WIB. Suasana perlahan berubah ramai. Peralatan pemotongan mulai disiapkan, area distribusi ditata, dan para panitia membagi tugas masing-masing.
Prosesi penyerahan simbolik hewan kurban dilakukan oleh Windu Saolah kepada Ketua DKM Baiturrahman JGR, Ustaz Fachruddin. Momen sederhana itu menjadi penanda dimulainya rangkaian penyembelihan hewan kurban yang tahun ini kembali menghadirkan semangat kebersamaan warga.
Tahun ini, jumlah hewan kurban yang terkumpul terdiri dari dua ekor sapi dan sebelas ekor kambing atau domba. Jumlah tersebut sama seperti tahun sebelumnya, menandakan semangat berbagi warga JGR tetap terjaga.
Proses penyembelihan dilakukan oleh Ustaz Jaenal Abidin. Menariknya, penyembelihan sapi dan kambing dilakukan hampir bersamaan sehingga area kegiatan tampak hidup sejak pagi. Warga dari berbagai usia ikut terlibat sesuai kemampuan masing-masing. Ada yang membantu memegang hewan, mencacah daging, menimbang, membungkus kantong distribusi, hingga membersihkan area pemotongan.
Suasana hangat terasa sepanjang kegiatan berlangsung. Anak-anak tampak antusias menyaksikan prosesi kurban dari kejauhan. Sementara para bapak dan ibu saling membantu sambil sesekali bercanda di tengah kesibukan. Gelak tawa beberapa kali pecah di antara warga yang sibuk mencacah daging dan mempersiapkan pembagian.
Tidak ada sekat dalam kegiatan tersebut. Semua warga terlibat sesuai peran dan kemampuan masing-masing.
Bagi warga JGR, qurban bukan sekadar ritual tahunan. Qurban menjadi bukti keberanian seorang muslim untuk berbagi kepada sesama sekaligus bentuk penghambaan kepada Sang Pencipta. Nilai itulah yang terasa begitu hidup sepanjang proses berlangsung.
Distribusi daging dilakukan kepada warga JGR, asisten rumah tangga, warga sekitar, mahasiswa Yapidh, tim keamanan, tim kebersihan, hingga Bamus Bojongsari. Setiap kantong dibagikan dengan porsi sekitar satu kilogram berisi daging dan cacahan lainnya. Sementara pequrban sapi mendapatkan jatah sekitar dua kilogram dan pequrban kambing memperoleh satu kaki kambing atau domba.
Berikut daftar pequrban Qurban 1447 H Musholla Baiturrahman JGR:
Sapi Pertama:
- Agus Haryanto (E15)
- Farid Nur Fauzan (E15)
- Friska Oriza binti Andy Heriyanto (I-8)
- Windu Saolah (A6)
- Andri Satrio (E14)
- Gustina Hilda binti HM Azis (A12)
- Bayu Mahardika W. (A5)
Sapi Kedua:
- Muhammad Ardiansah Akbar (I-22)
- Yasmin Nurul Faizah binti H. Jaenal Abidin (A1)
- Rahman Danil (G3)
- Lathifah Hanif Khairunnisa binti Mujiran (H10)
- Hazim Abdul Hanan bin Apriyanto Saputra (H2)
- Oom Aisah binti Arifin (A4)
- Hendra (B10)
Pequrban Kambing/Domba:
- Eka Septian Rahmawanti binti Marwoto (I02)
- Naomi Alfathunisa binti Pujiono Rahayu Widodo (F12)
- Firly Yunanda Damanik binti Abdul Hamid Damanik (I03)
- Falyn Sheza Striawan binti Yunus Striawan (F17)
- Rino Pradisa (G10)
- Abidin (D2)
- Ade Pramudya (B4)
- Qiyyami Azraa (G1)
- Ahmad Azzam bin Budi Aryanto (I16)
- Daud Mordekhai Saylendra bin Nino Sulaksana (E2)
- Aghnia Nura Widijarto binti Cahyo Eri Widijarto (I12)
Menjelang siang, setelah sebagian besar daging selesai dibagikan, suasana mulai melambat. Namun kebersamaan masih terasa. Sejumlah warga duduk santai menikmati ramah tamah sederhana setelah sejak pagi bekerja bersama.
Hari itu, JGR bukan hanya melaksanakan ibadah qurban. Mereka sedang menjaga tradisi gotong royong yang perlahan mulai jarang ditemukan di banyak tempat.
