Oleh: Diding S. Anwar (dsa)
Tulisan ini merupakan catatan reflektif pribadi dalam semangat tadabur dan muhasabah menjelang Idul Adha. Apabila terdapat kekurangan, sepenuhnya menjadi keterbatasan penulis. Semoga menghadirkan manfaat, kelembutan hati, dan energi positif bagi kebaikan bersama.
Di Bawah Pohon Trembesi
Menjelang Idul Adha, suasana pasar hewan selalu menghadirkan pemandangan yang khas. Di sebuah sudut kota, seekor kambing putih berdiri diam di bawah pohon trembesi. Angin sore menggerakkan bulunya perlahan. Tidak jauh darinya, seekor sapi besar mengunyah rumput dengan tenang, seperti seorang tua bijaksana yang telah lama memahami rahasia kehidupan.
Orang-orang datang silih berganti. Ada yang sibuk menawar harga sambil menghitung kemampuan keuangan di telepon genggamnya. Ada yang memeriksa berat badan dan kesehatan hewan dengan serius. Ada pula yang lebih sibuk mencari sudut terbaik untuk foto dan unggahan media sosial.
Di tengah keramaian itu, kambing putih tersebut seolah memandang manusia satu per satu. Tatapannya teduh, namun seperti menyimpan pertanyaan yang dalam:
“Wahai manusia, sebenarnya siapa yang sedang diuji besok? Aku… atau egomu?”
Pertanyaan itu terasa sederhana, tetapi sesungguhnya sangat menusuk. Sebab bisa jadi, kambing dan sapi justru lebih jujur daripada manusia. Mereka tidak pernah berpura-pura miskin demi bantuan sosial, tidak pernah memamerkan ibadah demi pujian, dan tidak pernah berbicara tentang kepedulian sambil diam-diam memelihara kerakusan.
Mereka hanya makan rumput, minum air, lalu menunggu takdirnya dengan tenang.
Keikhlasan Nabi Ibrahim AS
Dalam sejarah para nabi, qurban bukan sekadar ritual penyembelihan hewan. Qurban adalah kisah tentang cinta, kepatuhan, dan keikhlasan yang melampaui logika manusia.
Ketika Nabi Ibrahim AS mendapat perintah Allah SWT untuk mengorbankan putranya sendiri, Nabi Ismail AS, ujian itu bukan semata tentang darah dan kehilangan. Ujian itu sesungguhnya tentang satu hal yang paling mendasar dalam kehidupan manusia: apakah cinta kepada Allah lebih besar daripada cinta kepada dunia.
Allah SWT mengabadikan kisah agung tersebut dalam Al-Qur’an:
“Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.”
Ismail menjawab:
“Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”
(QS. Ash-Shaffat: 102)
Betapa luar biasanya jawaban Nabi Ismail AS. Tidak ada protes, tidak ada kemarahan, dan tidak ada gugatan. Yang ada hanyalah kepasrahan total kepada Allah SWT.
Di situlah letak makna qurban yang sesungguhnya: bukan tentang siapa yang dikorbankan, tetapi tentang siapa yang paling taat ketika diuji.
Dan ketika kepatuhan itu mencapai puncaknya, Allah SWT mengganti Nabi Ismail dengan seekor hewan qurban.
“Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.”
(QS. Ash-Shaffat: 107)
Ketika Langit Menilai Hati
Di pasar hewan, kambing diperiksa giginya. Sapi ditimbang kesehatannya. Semua harus memenuhi syarat.
Namun diam-diam, langit mungkin sedang memeriksa sesuatu yang jauh lebih penting: hati manusia.
Apakah niat kita benar-benar lurus?
Apakah qurban dilakukan dengan ikhlas?
Ataukah hanya ingin disebut dermawan dan saleh?
Allah SWT mengingatkan:
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu.”
(QS. Al-Hajj: 37)
Ayat ini seperti mengetuk keras hati manusia modern. Kadang daging belum sampai kepada yang membutuhkan, tetapi dokumentasi qurban sudah lebih dahulu beredar di media sosial. Kadang yang dipotong hanyalah sapi, sementara kesombongan tetap dipelihara. Kadang yang dibagikan hanya daging, tetapi kasih sayang dan kepedulian tidak pernah ikut diberikan.
Padahal qurban sejatinya bukan panggung pencitraan, melainkan latihan memotong ego dan menumbuhkan ketulusan.
Percakapan di Dunia Sunyi
Konon, di sebuah dunia sunyi yang hanya diketahui langit, kambing dan sapi berkumpul pada malam sebelum Idul Adha.
Seekor sapi tua berkata kepada yang lain:
“Besok sebagian dari kita akan menjadi jalan pahala bagi manusia. Tetapi semoga manusia tidak lupa bahwa yang paling sulit ditata bukan kami, melainkan hawa nafsu mereka sendiri.”
Seekor kambing muda lalu bertanya:
“Apakah setelah qurban manusia akan menjadi lebih baik?”
Kambing tua itu tersenyum tipis.
“Secara teori, iya. Tetapi dalam praktiknya, tergantung apakah mereka mau meredam keserakahan, iri hati, dendam, dan keinginan dipuji.”
Malam mendadak terasa sunyi.
Dan entah mengapa, percakapan imajiner itu terasa begitu dekat dengan kenyataan kehidupan manusia hari ini.
Keteladanan Rasulullah SAW
Rasulullah SAW mengajarkan bahwa qurban bukan ajang kemewahan, melainkan latihan kepedulian sosial dan ketundukan kepada Allah SWT.
Beliau memilih hewan terbaik untuk qurban dan membagikan dagingnya kepada masyarakat, terutama fakir miskin. Dalam hadits riwayat Tirmidzi disebutkan:
“Tidak ada amalan anak Adam pada hari Nahr yang lebih dicintai Allah selain mengalirkan darah (hewan qurban).”
(HR. Tirmidzi)
Namun Rasulullah SAW sendiri hidup sangat sederhana. Rumah beliau kecil, tikarnya membekas di tubuh, dan beliau sering menahan lapar.
Dari Rasulullah SAW, umat belajar bahwa qurban bukan simbol kemewahan, melainkan simbol pengorbanan, kesederhanaan, kepedulian, dan kasih sayang.
Menata “Aku”
Ketika takbir berkumandang:
Allahu Akbar… Allahu Akbar…
sesungguhnya yang sedang diuji bukan hanya kemampuan membeli sapi atau kambing. Yang sedang diuji adalah kemampuan manusia menata dirinya sendiri.
Bisakah kita mengalahkan ego?
Bisakah kita berhenti merasa paling benar?
Bisakah kita ikhlas tanpa dipuji?
Bisakah kita berbagi tanpa kamera?
Bisakah kita memaafkan tanpa syarat?
Bisakah kita membantu tanpa berharap balasan?
Karena qurban terbesar sesungguhnya adalah menata “aku”.
“Aku yang paling hebat.”
“Aku yang paling berjasa.”
“Aku yang paling benar.”
“Aku yang selalu ingin dipuji.”
“Aku yang selalu ingin menang sendiri.”
Dalam falsafah Sunda dikenal ungkapan adigung adiguna gede hulu, yaitu sikap merasa diri paling besar, paling hebat, dan paling pantas dimuliakan.
Padahal di hadapan Allah SWT, kemuliaan manusia tidak diukur dari kekayaan, popularitas, ataupun kekuasaan.
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”
(QS. Al-Hujurat: 13)
Pelajaran dari Idul Adha
Idul Adha mengajarkan bahwa keikhlasan lebih mahal daripada kemewahan. Ketakwaan lebih tinggi daripada pencitraan. Berbagi lebih mulia daripada sekadar memiliki. Rendah hati lebih indah daripada merasa paling benar.
Dan pengorbanan terbesar dalam hidup ini sesungguhnya adalah melawan hawa nafsu diri sendiri.
Sebab manusia sering kalah bukan oleh orang lain, tetapi oleh egonya sendiri.
Belajar Menjadi Manusia
Mungkin setelah Idul Adha berlalu, kambing dan sapi telah tiada. Namun tugas manusia justru baru dimulai: belajar menjadi lebih lembut, lebih jujur, lebih peduli, lebih rendah hati, lebih ikhlas, dan lebih manusiawi.
Boleh jadi, seekor kambing sederhana telah mengajarkan filsafat kehidupan yang tidak diajarkan di banyak ruang kuliah:
“Manusia tidak diukur dari apa yang dimilikinya, tetapi dari apa yang rela ia korbankan demi kebaikan sesama.”
Semoga Idul Adha bukan hanya menghadirkan aroma sate dan gulai di rumah-rumah kita, tetapi juga menghadirkan kejernihan niat, kelembutan hati, dan keberanian menata kesombongan dalam diri.
Karena qurban sejati bukan hanya tentang darah yang menetes ke bumi, tetapi tentang hati yang kembali tunduk kepada langit.
Penutup
Yang paling sulit ditata bukan dunia di luar diri, tetapi ego di dalam hati.
Fastabiqul khairat.
Semoga tulisan sederhana ini menjadi pengingat bagi diri sendiri, energi positif untuk kebaikan bersama, dan ikhtiar kecil menebar kemaslahatan umat.
Semoga pula menjadi amal jariyah ilmu yang menghadirkan manfaat, kelembutan hati, serta menguatkan nilai keikhlasan dan kemanusiaan.
Mohon maaf lahir dan batin.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.
dsa
Idul Adha 1447 H / Mei 2026
