Diversifikasi Produk, UMB dan Unpas Siap Gandeng Rakyat NTT Kembangkan Produk Lokal

JAKARTA – Universitas Mercu Buana (UMB) dan Universitas Pasundan (Unpas) terus melebarkan sayapnya dalam mengembangkan ekonomi rakyat kecil, dengan inovasi kreatif berasis lokal.

Untuk mengembangkan kesadaran masyarakat, terkhusus bagi masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) akan pentingnya nuansa ekonomi kreatif, dan inovatif berbasis kearifan lokal, dua institusi pendidikan ini menggelar seminar virtual bersama Pemerintah Provinsi NTT, mahasiswa dan masyarakat dengan tema ‘Pengembangan Ekonomi Kreatif dan Inovatif Berbasis Kearifan Lokal’ pada Sabtu (18/7) kamrin.

Asep Dedy Sutrisno saat menjadi narasumber pada kegiatan tersebut mengatakan, tujuan dari diversifikasi produk ini agar berbagai produk bisa didesain sesuai dengan keinginan pasar, yang notabenenya memiliki selera yang beragam. Semakin beragamnya produk yang dihasilkan dari bahan-bahan mentah yang terbatas, akan memperluas pangsa pasar dengan sendirinya.

Dengan demikian, ekonomi kerakyatan yang langsung menyentuh kehidupan masyarakat kecil akan bertumbuh dan berkembang.

“Pastinya kita akan melakukan survei pasar terlebih dahulu, kemudian disinkronkan dengan produk-produk yang bisa dihasilkan dari bahan-bahan pokok kita. Soal mesin, jangan khawatir, punya kita lengkap. Soal SDM jangan takut, kita akan mendampingi masyarakat dan memberikan pelatihan-pelatihan teknis yang berguna dan bermanfaat dalam hubungan dengan diversifikasi produk dan marketing berbasis digital,” kata Asep Dedy.

Sementara itu, inisiator Adhikartes Community Stella Monica menyinggung soal kurikulum internasional yang lebih banyak berbicara tentang masyarakat adat, dan penghargaan terhadap produk kebudayaan.

Dijelaskan Stella, hal inilah yang membuat pasar-pasar internasional lebih memiliki kesukaan, dan ketertarikan terhadap produk-produk khas masyarakat yang masih kental akan nuansa adat dan budaya seperti Batik, Songket Batak, dan kain Tenun.

“Kami membentuk Adhikartes Community untuk menghimpun anak-anak muda yang memiliki pemikiran kreatif, dan bernuansa global. Dalam komunitas ini, kita akan saling berbagi tentang potensi produk-produk kearifan lokal kita masing-masing, dan menghubungkannya dengan pangsa pasar Internasional agar perputaran uang di masyarakat lokal menjadi semakin baik,” ucap Stella.

Bersamaan dengan itu, Kadis Parekraf Provinsi NTT I Wayan Darmawa menjelaskan lebih banyak tentang lanskap pariwisata, budaya, dan produk-produk Kearifan Lokal NTT sebagai motor penggerak ekonomi NTT.

Menurut I Wayan saat ini destinasi wisata NTT mulai berkembang secara perlahan, seperti kawasan wisata Labuan Bajo, dengan Taman Nasional Pulau Komodo, yang mana saat ini tengah diproses untuk menjadi destinasi super prioritas, dan berbagai destinasi lainnya.

“Kelemahan kita di NTT yang paling besar adalah SDM. Masyarakat kita belum memiliki SDM yang mumpuni. Tentunya untuk mengatasi permasalahan ini kami dari Pemprov mulai membuat beberapa komunitas dan melakukan pelatihan-pelatihan kepada masyarakat,” tutur I Wayan.

Dengan banyaknya destinasi wisata di NTT, I Wayan berharap agar masyarakat bisa menjadi aktor ekonomi dengan menangkap peluang dari para pengunjung destinasi wisata, dengan mendagangkan produk-produk lokal dan kerajinan tangan lokal.

“Untuk itu, kami dari Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif NTT sangat mengharapkan dukungan dari berbagai pihak, khususnya para akademisi dan ahli teknologi untuk bisa ikut mendampingi masyarakat kami, sehingga kelemahan di bidang SDM bisa teratasi,” harapnya. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *