Bangsa yang besar bukan hanya membangun infrastruktur yang megah, tetapi juga memastikan negara hadir dengan cepat, bermartabat, dan penuh empati ketika warganya mengalami musibah.
Ada pengalaman sederhana yang kembali mengingatkan saya akan makna sebuah pengabdian.
Saya telah purnatugas. Saya tidak menyaksikan langsung suatu peristiwa kecelakaan, bahkan tidak mengenal korban maupun keluarganya. Namun, secara tiba-tiba saya menerima telepon dari salah seorang Petinggi Negeri yang berharap agar informasi tersebut dapat segera diteruskan kepada Jasa Raharja.
Peristiwa sederhana itu menyadarkan saya bahwa di mata masyarakat, bahkan di kalangan para pemimpin negeri, Jasa Raharja tetap dipandang sebagai institusi yang menghadirkan negara ketika musibah terjadi. Kepercayaan tersebut merupakan amanah yang sangat besar, yang harus terus dijaga dan dipelihara oleh setiap insan Jasa Raharja.
Atas dasar empati, saya menyampaikan bahwa masih ada pejabat-pejabat Jasa Raharja yang saya kenal dan siap membantu meneruskan informasi agar dapat segera ditindaklanjuti sesuai kewenangan dan ketentuan yang berlaku.
Saya juga menyampaikan keyakinan bahwa Jasa Raharja tetap eksis sebagai pelaksana amanat undang-undang dalam memberikan perlindungan dasar kepada masyarakat. Saya percaya masih banyak insan Jasa Raharja yang kompeten, profesional, berintegritas, penuh kepedulian, serta menjunjung tinggi kehormatan dalam mengemban amanah pelayanan kepada masyarakat.
Kenangan masa pengabdian puluhan tahun lalu kembali terlintas.
Pada masa ketika teknologi digital belum secanggih sekarang, pelayanan santunan Jasa Raharja telah menerapkan semangat jemput bola.
Santunan bagi ahli waris korban meninggal dunia dapat diselesaikan hanya dalam hitungan jam.
Pedoman pelayanan ketika itu sangat sederhana, namun memiliki makna yang sangat mendalam, yaitu 5 Tepat:
- Tepat Subjek;
- Tepat Objek;
- Tepat Jumlah;
- Tepat Waktu; dan
- Tepat Administrasi.
Kelima prinsip tersebut bukan sekadar prosedur kerja, melainkan budaya pelayanan. Kecepatan bukan hanya ukuran kinerja, tetapi merupakan wujud empati kepada keluarga yang sedang mengalami kedukaan.
Di berbagai pelosok Indonesia, petugas Jasa Raharja rela menunggang kuda, menyeberangi sungai dengan perahu, berjalan kaki menembus pegunungan, bahkan menghadapi berbagai risiko demi melaksanakan amanah negara.
Semua dilakukan agar negara benar-benar hadir melalui pelayanan santunan kepada masyarakat yang membutuhkan. Tidak sedikit kisah pengabdian yang lahir tanpa sorotan, namun meninggalkan jejak kemanusiaan yang luar biasa.
Hari ini, dunia telah berubah. Teknologi berkembang sangat pesat. Integrasi data, pelayanan digital, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), serta sistem informasi yang semakin modern semestinya menjadikan pelayanan bukan lagi diukur dalam hitungan jam, melainkan dalam hitungan menit.
Transformasi digital hendaknya menjadi akselerator pelayanan, bukan sekadar modernisasi sistem. Tujuan akhirnya tetap sama, yaitu menghadirkan negara secara cepat, tepat, dan humanis.
Namun, secanggih apa pun teknologi, satu hal yang tidak boleh berubah adalah semangat melayani.
Bagi keluarga yang sedang kehilangan orang yang dicintai, santunan bukan sekadar bantuan finansial. Santunan merupakan hak masyarakat yang dijamin oleh negara. Oleh karena itu, pelayanan santunan seyogianya selalu menjadi prioritas. Semakin cepat hak masyarakat diterima, semakin nyata kehadiran negara dirasakan.
Dalam perspektif pelayanan publik, menunda pelayanan santunan bukanlah pilihan. Bukan semata-mata karena tuntutan kinerja, tetapi karena santunan tersebut adalah hak masyarakat yang harus diterima secara cepat, tepat, dan bermartabat. Seluruh proses pelayanan hendaknya senantiasa mengedepankan kemudahan, kecepatan, kepastian, serta tetap memegang teguh prinsip kehati-hatian, akuntabilitas, tata kelola yang baik, dan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan.
Jasa Raharja bukan sekadar institusi yang menyelesaikan administrasi. Jasa Raharja merupakan representasi kehadiran negara di tengah masyarakat yang sedang mengalami musibah. Kehadirannya bukan semata-mata profit oriented, melainkan mengemban amanat konstitusional untuk memberikan perlindungan dasar kepada setiap warga negara yang berhak.
Teknologi hendaknya menjadi sarana memperkuat nilai-nilai kemanusiaan, bukan sekadar mempercepat proses administrasi. Digitalisasi akan memiliki makna apabila mampu menghadirkan pelayanan yang lebih sederhana, lebih cepat, lebih akurat, lebih transparan, dan lebih humanis.
Di sisi lain, perkembangan ekonomi nasional, tingkat inflasi, serta perubahan biaya hidup dari waktu ke waktu patut menjadi bahan renungan bersama.
Nilai santunan yang diberikan seyogianya dievaluasi secara berkala agar tetap memiliki daya guna dan daya bantu yang memadai bagi korban maupun ahli waris, dengan tetap memperhatikan kesinambungan pendanaan, kemampuan keuangan, serta kebijakan pemerintah dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Saya percaya semangat pengabdian insan Jasa Raharja hari ini tidak kalah dengan generasi sebelumnya. Tantangannya mungkin berbeda, tetapi misinya tetap sama, yaitu menghadirkan negara bagi masyarakat yang sedang mengalami musibah.
Ke depan, ukuran keberhasilan Jasa Raharja bukan hanya diukur dari kecepatan penyelesaian santunan, tetapi juga dari seberapa besar masyarakat merasakan kehadiran negara yang hadir dengan hati, empati, profesionalisme, dan integritas.
Kepercayaan masyarakat adalah aset terbesar Jasa Raharja. Kepercayaan tersebut tidak dibangun oleh teknologi semata, melainkan oleh kecepatan pelayanan, integritas insan, kepedulian yang tulus, serta konsistensi menghadirkan negara pada saat masyarakat paling membutuhkan. Selama nilai-nilai tersebut tetap dijaga, Jasa Raharja akan senantiasa relevan, dipercaya, dan tetap eksis melayani negeri.
Semoga Jasa Raharja senantiasa eksis, semakin maju, amanah, adaptif terhadap perkembangan zaman, serta terus menjadi institusi yang dipercaya masyarakat melalui pelayanan yang prima, profesional, berintegritas, dan penuh kepedulian.
Karena pada akhirnya, kecepatan pelayanan adalah profesionalisme, kepedulian adalah kemanusiaan, dan keduanya merupakan wujud nyata kehadiran negara.
Semoga nilai-nilai luhur tersebut senantiasa menjadi ruh pengabdian setiap insan Jasa Raharja, sehingga kepercayaan masyarakat tetap terjaga dari generasi ke generasi.
Pada akhirnya, institusi yang besar bukan hanya dikenang karena usia dan sejarahnya, tetapi karena konsistensinya menghadirkan manfaat, menjaga amanah, serta senantiasa hadir bagi masyarakat yang membutuhkan.
Fastabiqul Khairat.
Semoga catatan sederhana ini menjadi pengingat, renungan, sekaligus penyemangat agar Jasa Raharja senantiasa eksis sebagai representasi kehadiran negara dalam memberikan perlindungan dasar kepada masyarakat.
Semoga bermanfaat dan tetap semangat, Sahabat Jasa Raharja.
Diding S. Anwar
DSA
- Ketua Komite Tetap Penjaminan, Perasuransian, dan Dana Pensiun KADIN Indonesia Bidang Fiskal, Moneter, dan Industri Keuangan (FMIK).
- Ketua Bidang Penjaminan Risk Governance Centre (RGC), Fakultas Ilmu Administrasi, Universitas Indonesia.
- Wakil Ketua Umum Badan Pengurus Pusat GAPENSI.
